Fahri Hamzah: Generasi Milenial Kehilangan Teladan Para Elit Politik, Benarkah?
Bekas Wakil Ketua DPR serta politikus partai Gelora Fahri Hamzah memberi pandangannya berkaitan peranan anak muda atau angkatan milenial dalam hadapi keadaan negara ini hari. Fahri menjelaskan jika angkatan milenial sebetulnya kembali cari imamnya, kembali cari siapa yang perlu didengar serta kembali cari ke mana kita harus ke arah serta mengambil langkah.
game slot online terbesar cara bermain slot di media online
Jangan-jangan ada ketidakberhasilan untuk angkatan yang semestinya jadi suri tauladan, jadi bintang pembina, jadi hari-hari diikuti serta disaksikan. Oleh karenanya, mawas diri terbesar harus dilaksanakan oleh politikus. Sebab politikus yang dikasih amanah untuk memberi pengajaran politik bangsa.
Apakah benar?
Apakah benar kita kehilangan panutan pimpinan yang bisa jadi anutan beberapa milenial? Tidak kehilangan keseluruhannya tapi kita sedang kritis pimpinan yang menjadi anutan beberapa milenial. Sekarang ini kita belum menyaksikan pimpinan yang benar-benar serta benar-benar dekat sama rakyat.
Jadi, waktunya kita munculkan pimpinan yang berteman dengan rakyat. Tidak dapat kita diamkan cuman semacam ini. Oleh karenanya, tidak perlu bertanya apa peranan serta dampak yang sudah diberi milenial tetapi apa yang sudah diberi oleh pimpinan selaku anutan dari rakyat tersebut.
Apa lagi jika kita berkaca untuk legitimasi UU Cipta Kerja atau Omnibus Law, lihatlah bagaimana geramnya warga kita menyaksikan keadaan itu. Semakin nampak jika kita kritis cara memimpin di mana suara rakyat tidak akan didengar selaku usaha membenahi UU Omnibus Law Cipta Kerja.
Bukan hanya itu, bagaimana juga ada pengakuan jika milenial tidak memberi imbas apa-apa untuk negara cuman dapat berdemonstrasi saja. Pasti ini pengakuan yang akan memunculkan amarah dari anak muda atau milenial kita sebab digeneralisir semacam itu.
Karenanya, pantas kita ajukan pertanyaan di mana pimpinan kita yang betul-betul sayang untuk rakyatnya serta dengarkan rakyatnya. Jangan-jangan kita akan capai kritis cara memimpin yang berkelanjutan serta itu harus kita musuh.
Oleh karenanya, betul jika kita sedang kehilangan panutan politikus atau pimpinan. Bukan kehilangan keseluruhannya tetapi semakin minim panutan cara memimpin. Jadi, harus bersama kita membuat panutan pimpinan baru. Triknya dengan dengarkan tiap keluh kesah serta keinginan rakyat.
Jangan sampai bermain untuk suara rakyat sebab suararakyatlah terpenting supaya kita semakin maju serta berkembang.
